Sekolah Budya Wacana

Peringati Hari Pendidikan Nasional: “Masih Perlu Pembenahan Pada Pendidikan Indonesia”

Hari Pendidikan Nasional dimana selalu kita peringati sebagai bagian terpenting dalam sejarah bangsa Indonesia. Pada hari Sabtu (2/5) merupakan hari yang diperingati sebagai tolak ukur pembangunan bangsa. hari kelahiran Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan Indonesia, diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Menurut Tan Malaka: “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan”. Dengan demikian pendidikan semestinya bisa membebaskan serta memerdekakan manusia dari dominasi manusia lainnya. Hal tersebut serupa yang diharapkan oleh Ki Hajar Dewantara yang selalu mengkritik keras konsep pendidikan di masa kolonial melalui “Taman Siswa”, dengan hal inilah pendidikan semestinya membawa masyarakat Indonesia pada pembebasan.

Peringatan hari pendidikan ini juga dilakukan oleh SMP Budya Wacana, yang melakukan upacara bendera menggunakan pakaian adat nusantara. Dengan upacara menggunakan pakaian adat ini harapannya para peserta upacara dapat menerima perbedaan yang ada sebagai warga negara Indonesia. Upacara yang berlangsung pada pukul 07.15 WIB ini dibuka dengan pidato singkat pembina upacara Ibu Adhika Ayu Pratishita S.Pd.M.A. yang juga merupakan kepala SMP Budya Wacana. Di dalam pidatonya diharapkan hari pendidikan tahun ini mampu menjadi refleksi bagi kita semua untuk memperbaiki pendidikan menjadi lebih baik kedepannya, keberadaan sekolah rakyat, tunjangan sertifikasi guru, serta tes kompetensi akademik menjadi jawaban dari perbaikan kualitas pendidikan saat ini. Pendidikan juga harus dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali, sehingga tujuan mulia dari dasar negara Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dapat terwujud secara utuh. Pada upacara ini turut serta polsek Gondokusuman ikut hadir sebagai peserta upacara.

Harapan-harapan yang kemudian ada dalam pidato menteri pendidikan sebagai represntasi harapan masyarakat terhadap perbaikan pendidikan belum seluruhnya dapat terwujud. Realitanya masih banyak guru-guru honorer yang kesejahteraannya belum tercukupi, mereka terdampak pada aturan-aturan yang membuat harus mengabdi bertahun-tahun tanpa adanya kenaikan pangkat maupun peningkatan gaji secara berkala, terlebih lagi kepentingan penguasa yang mereduksi nilai-nilai pendidikan melalui program MBG (Makan Begizi Gratis) yang kedepannya menjadi masalah baru dalam pemerintahan Indonesia. Seharusnya jika hari pendidikan nasional menjadi sakral bagi insan pendidikan Indonesia, yang diutamakan yaitu kualitas pendidikan seperti sarana prasarana, biaya pendidikan maupun pembangunan fasilitas sekolah. Kenyataanya pembangunan SPPG-MBG yang ada  di setiap daerah Indonesia harus mengorbankan alokasi dana pendidikan yang ada.

Pembenahan-pembenahan tersebut seharusnya menjadi evaluasi bagi pemerintah serta masyarakat Indonesia untuk memisahkan hal penting-tidak penting, berguna-tidak berguna, bermanfaat dan tidak bermanfaat untuk memperbaiki kualitas pendidikan nasional. Belum ditambah lagi pembungkaman sikap kritis para akademisi-aktivis di lingkungan pendidikan dan  perguruan tinggi yang dianggap sebagai ancaman bukan masukan bagi pemerintah, seharusnya kita semua harus saling berkaca akan masalah ini. Memang hari pendidikan nasional tahun ini bukan menjadi peringatan yang terbaik dalam sejarah negara Indonesia, namun dengan saling merefleksikan diri kita tidak hanya memperingati momentum namun dapat menjadi agen perubahan dalam perbaikan kontruksi pendidikan nasional menjadi lebih baik lagi. (A.R.)

Oleh: Angga Riyon Nugroho S.Pd.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top