


Permainan tradisional atau permainan rakyat merupakan bagian tradisi lisan yang dahulu dilakukan oleh nenek moyang bangsa Indonesia untuk menyampaikan pesan-pesan kehidupan kepada anak cucunya. Namun keberadaan modernisasi dan teknologi membuat tradisi lisan ini hilang dimakan oleh zaman. Hal ini dipengaruhi oleh penggunaan gadget yang sudah menjadi keseharian dalam pembelajaran di sekolah. Prihatin dalam kondisi ini, pembelajaran Pendidikan Pancasila di kelas 8, SMP Budya Wacana memasukan materi permainan tradisiona pada pembelajaran di dalam kelas.
Pembelajaran yang dilakukan pada (14/4) dilangsungkan di kelas 8A dan 8B, dengan memberikan kesempatan para peserta didik untuk memilih permainan tradisional yang mereka ingin persentasikan di depan kelas dan mencoba mempraktikan permainan tersebut di depan peserta didik yang lainnya. Selain memiliki manfaat untuk memutar memori di masa lalu yang kini berlahan ditinggalkan, kesempatan persentasi dan demonstrasi permainan tradisional membentuk karakter peserta didik untuk mengenal jati diri bangsanya sendiri. Nilai-nilai serta makna yang tersirat dari setiap permainan tradisional juga menjadi inti pada materi ini.
Beberapa kelompok ada yang mencoba kembali memperkenalkan permainan kelereng, congklak/dakon, petak umpet, cublak-cublak suweng dan engklek (teplak gunung) dengan mengandalkan perlengkapan yang ada tanpa mengurangi esensi nilai dalam permainan tersebut.Walau hanya dipraktikan di kelas yang tidak seluas seperti di lapangan namun seluruh peserta didik sangat antusias mengikuti pembelajaran ini. Bahkan Putra salah satu peserta didik dari kelas 8B membawa wadah congklak/dakon untuk dimainkan bersama saat persentasi berlangsung. Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan Bagus dari kelas 8B, yang berusaha mengingatkan memorinya di masa lalu tentang permainan tradisional yang pernah dimainkannya dulu. Namun nilai tersebut berlahan punah karena generasi muda saat ini lebih senang bermain gadget daripada berkumpul bersama di lapangan untuk bermain permainan tradisional.
Pada kesempatan ini juga para peserta didik kelas 8 juga mempersentasikan tradisi dan budaya lainnya, misalnya seperti kain batik dan cara berkomunikasi menggunakan bahasa daerah yang nasibnya sama, perlahan mulai ditinggalkan.. Dalam persentasi tersebut selain kesempatan guru untuk memberikan penilaian kepada peserta didik untuk menilai persentasi dari kelompok lain sehingga penilaian dibuat seobjektif mungkin kepada seluruh peserta didik.
Harapannya perkenalan peserta didik terhadap permainan rakyat tidak hanya berakhir pada pembelajaran Pendidikan Pancasila, namun dapat dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari atau lomba-lomba tertentu di sekolah, sehingga nilai-nilai lisan dalam permainan tradisional tidak hilang ditelan oleh zaman.
Oleh: Angga Riyon Nugroho S.Pd.